sleep (tidur)

Di luar kajian deskriptif dan korelasional ini, timbul tantangan terus-menerus mengenai pertanyaan tentang fungsi tidur. Pertanyaan ini sering dikaji dengan cara melihat akibatnya terhadap perilaku bangun setelah mengalami keadaan kurang tidur, baik secara total maupun selektif.

Tidur adalah perilaku manusia yang berlangsung selama sepertiga waktu hidupnya dan terjadi sepanjang sejarah dan masyarakat. Lepas dari karakteristiknya yang begitu penting, tidur tidak diperhatikan ilmuwan sosial sampai pertengahan abad 20. Sebagai sebuah kajian berdasarkan laboratorium yang dimulai dengan sungguh-sungguh pada awal 1950-an untuk menggambarkan sifat dan dimensi tidur sebagai sebuah perilaku yang terjadi secara teratur (Acerinsky and Kleitman 1953; Demen and Kleitman 1957), menjadi jelaslah bahwa saat tidur lebih dari sekedar tindakan tidak bergerak yang pasif atau tanpa perilaku yang jelas. Dengan merekam electroencephalogram (EEG), electrooculogram(EOG), dan electromyogram (EMG) dengan terus-menerus sepanjang satu periode waktu dari bangun tidur hingga tidur kembali sampai kesadaran penuh, ditemukan bahwa terdapat siklus perubahan reguler tidur. Penemuan tersebut mengungkapkan bahwa tidur terdiri dari 2 jenis tipe yang berbeda yaitu tidur dengan rapid eye movement (pergerakan mata yang cepat, disingkat REM) dan tidur dengan non rapid eye movement (tanpa pergerakan mata yang cepat, disingkat NREM) yang berbeda satu sama lain ketika masing-masing terbangun penuh. Penelitian ini kemudian diikuti oleh kajian berseri lain yang memfokuskan pada keadaan REM dan NREM ini dan interaksi keduanya dalam konteks ritme siklus (tidur-bangun) keseluruhan. Tiap 1 jam pergerakan sinkronisasi: keadaan tidak bergerak secara psikiologi, tidur NREM di mana aktivitas motorik-nya sudah lengkap, sampai ke desinkronisasi, keadaan aktif di mana secara psikiologi, saat REM dibarengi paralisis (motorik) yang kemudian dikenal sebagai ultradian rhythm (ritme ultradian). Dalam tidur NREM, pola EEG yang bervariasi kemudian dibedakan berdasarkan konvensi menjadi tingkatan tidur numerik 1,2,3,4. Dalam tingkatan ini terletak dasar penempatan deskriptif tidur malam dengan jumlah menit yang terpakai tiap kali tingkatan tidur sampai jumlah jam di malam hari, dan dengan panjang siklus ultradian. Plot ini mengacu pada sleep architecture (arsitektur tidur). Saat konvensi ini menetapkan norma umur (Rech- tschaffen & Kales 1968), karakteristik tidur juga ditetapkan (William et. al. 1974). Kajian perubahan yang terus berkembang ini memberikan gagasan tentang hubungan tidur-bangun. Perbedaan individu dalam parameter tidurnya juga digali dan dihubungkan dengan ragam intelektualitas, kepribadian, dan gaya hidup. Contohnya, meskipun masih dalam perdebatan, antara “long sleepers” atau di tukang tidur (mereka yang tidur lebih dari 9 jam per malam) dengan si short sleepers atau si kurang tidur (mereka yang tidur kurang dari 6 jam permalam) terdapat perbedaan susunan psikologis. Si tukang tidur lebih introvert, dengan energi dan agresivitas yang lebih rendah daripada si kurang tidur. Jelaslah bahwa ada perbedaan tertentu dalam jenis tidur yang ditekankan pada orang-orang ini. Si tukang tidur dan si kurang tidur memiliki jumlah yang sama untuk tahap 3 dan 4, tapi si tukang tidur memiliki jumlah tidur REM dua kali lipat dan tidur REM mereka meningkatkan densitas pergerakan mata. Sehingga, dalam area fungsi REM yang diperlukan si tukang tidur untuk tidur lebih lama harus digali lebih jauh. Variasi lain juga dapat muncul, contohnya tentang ‘depth of sleep’ atau kenyenyakan tidur. Variasi ini telah dikaji dengan menggunakan tingkatan stimulasi audio untuk menciptakan rangsangan sebagai ukurannya. Prosedur ini menegaskan bahwa semua tingkat tidur menjadi lebih ringan secara progresif seiring umur manusia, jadi tidur mesti lebih diperhatikan lagi di usia tua.

Sampai sekarang, kajian-kajian ini terhambat oleh keterbatasan-keterbatasan dari subyek ma-nusia untuk dijadikan subyek. Kajian singkat tentang kekurangan tidur hanya menimbulkan hasil yang samar-samar. Ini semua ditambah lagi dengan ironisme:” akibat kekurangan tidur membuat orang semakin mengantuk”. Namun, akibat selanjutnya dari tidur sudah jelas. Setelah benar-benar kekurangan tidur, artistektur tidur berubah. Tidur REM ditunda untuk memperpanjang waktu tahap tidur 3 dan 4. Tampak bahwa sinkronisasi tidur ini digantikan lebih dulu. Sebenarnya, apabila tingkat kekurangan tidur lebih dari 2 atau 3 malam, pada malam pertama tidur penyembuhan tak terdapat tidur REM sama sekali. Kondisi ini tak akan timbul kembali sampai malam penyembuhan ke-2. Sebaliknya, penyembuhan timbul setelah waktu kekurangan tidur REM. Pada malam pertama tidur ‘ad-lib’ (tanpa persiapan), tidur REM tampak lebih dulu dalam plot arsitektur dan jumlah keseluruhannya makin meningkat melebihi porsi biasanya ketika waktu tidur kese-luruhan dikontrol. Dengan kata lain, baik tidur NREM tahap 3 dan 4 dan tidur REM terjadi seolah-olah NREM dan REM memiliki kebutuhan yang menempatkannya pada keseimbangan homeostatis. Kajian tentang kekurangan tidur dalam waktu lama dengan menggunakan percobaan dengan tikus dan sepasang binatang yang tidak pemah tidur sebagai pengontrolnya makin menegaskan bahwa kekurangan tidur ekstrim menimbulkan perubahan organik yang membuat seseorang menjadi lemah atau meninggal (Rechtschaffen etal 1983). Inilah kajian pertama di mana tidur dianggap penting untuk bertahan hidup. Berapa lama tidur untuk jenis tidur tertentu pada manusia adalah persoalan penting, untuk memastikan keadaan terbaik (dalam soal tidur ini) barangkali tidak dijawab melalui kajian eksperimen, tapi melalui berbagai kajian klinis yang dilakukan pada pasien-pasien pengidap berbagai sulit-tidur dan relasi tidur-bangun.

Bertentangan dengan latar belakang pengetahuan tentang arsitektur tidur normatif untuk setiap jenis kelamin sepanjang rentang kehidupan jumlah deviasi besar dan jenis tidur kini dapat diidentifikasikan, sama halnya dengan perbedaan distribusi tidur pada siklus sirkadian (circadian cycle). Kajian yang mencari hubungan psikopatologi bangun tidur dan patologi tidur menjadi sangat produktif pada area depresi. Meskipun telah diketahui bahwa orang-orang yang menderita gangguan afektif pasti juga memiliki kualitas tidur yang tidak memadai, pemantauan mendetil laboratorium menyatakan bahwa karakteristik disfungsi ini secara spesifik mengacu pada tidur REM. Hal ini kemudian dipindahkan secara signifikan pada seluruh arsitektur. Tidur REM yang pertama terjadi begitu cepat, setengah dari periode siklus normal, sering secara tidak normal diperpanjang pada kejadian pertama, mulai dari yang biasanya 10 sampai 40 menit, dan diikuti dengan peningkatan densitas pergerakan mata selama periode waktu ini dan perubahan distribusi waktu total. Tidur REM yang dianggap menjadi dominan pada malam paruh kedua, seperti pada individu normal, ternyata distribusinya antara malam paruh pertama dan kedua adalah sama (Kupfer et.al 1983). Sejak kekurangan tidur REM diketahui dapat meningkatkan keinginan bangun dan aktivitas seksual pada kucing, dan depresi diasosiasikan dengan reduksi perilaku-perilaku ini, maka temuan berupa disfungsi spesifik REM pada pasien ini menandakan bahwa tingkat tidur ini diimplikasikan dalam pengaturan perilaku apetitif (appetitive behaviours).

Kajian tentang tidur yang bersifat bebas-waktu menetapkan bahwa ritme sirkadian manusia normal bukan 24 jam, tapi sedikit lebih besar dari 25 jam. Temuan ini menunjukkan bahwa kajian sosial memainkan peranan dalam menjadikan siklus tidur 24 jam. Hilangnya petunjuk sosial ini (zeitgebers) selama waktu tidur atau saat tidak bekerja contohnya, sering mengakibatkan tidur lanjutan di waktu-waktu awal dan periode tidur yang lebih panjang. Kebanyakan individu normal memiliki sedikit masalah memasuki kembali ritme ini. Tapi, beberapa individu dengan kepribadian schizoid, atau mungkin beberapa defisit neurologis, tidak memiliki ritme bangun tidur yang tetap. Orang-orang semacam ini menderita ketidakmampuan untuk berfungsi pada aktivitas-aktivitas reguler karena tidak dapat diperkirakannya periode waktu mereka untuk berperilaku sosial secara aktif.

Kajian tidur malam atas orang-orang yang selalu mempunyai masalah bangun akibat berbagai episode tidur yang tak terkontrol telah menunjukkan beberapa tipe gangguan tidur yang menjadi penyebab hambatan ini, yang meliputi narcolepsy dan sindrom tidur apnomea. Kajian tidur dan interaksinya dengan perilaku bangun telah memperluas kapasitas para ahli ilmu sosial dan ilmu perilaku dalam menghitung aspek-aspek perilaku manusia yang awalnya kurang dimengerti dan telah mengubah kerangka waktu observasi termasuk siklus sirkadian penuh.