sensation and perception (sensasi dan persepsi)

Sensasi dan persepsi mengacu pada mekanisme yang menjadi alat kita menyadari dan memproses informasi tentang dunia luar. Aristoteles mengklasifikasi peanca indra menjadi lima kategori yaitu penglihatan (vision), pendengaran (audition), penciuman (olfaction), perasa (gustation) dan perabaan. Adalah biasa pada saat ini untuk membagi lebih jauh perabaan menjadi kategori yang terpisah yaitu, sakit, sentuhan, kehangatan, dingin, dan sensasi organis. Selain itu ada dua indera yang biasanya tidak kita sadari, yaitu, kinestesis, indera tentang posisi tungkai kita, dan indera vestibular, yang memberikan informasi tentang gerakan dan posisi kepala.

Para teoretisi terdahulu memandang sensasi sesuatu yang lebih mendasar dan kurang kompleks dibandingkan persepsi, tapi pembatasan ini terbukti tidak bermanfaat. Energi fisik seperti cahaya, gelombang suara, akselarasi, ditransdusi oleh sensorik dan organ-organ dengan demikian mengaktifkan syaraf yang membawa signal pada sistem pusat syarat. Bagian-bagian (properties) organ indera menentukan kisaran stimuli fisik yang bisa diterima. Sebagai contoh, telinga manusia merespons vibrasi udara hanya antara 20 sampai 20.000 putaran per detik. Energi fisik minimal yang dibutuhkan untuk mengaktifkan sensorik dan organ-organ mengacu pada ambang kemutlakan (absolute threshold). Ambang untuk pendengaran bergantung secara sistematis pada frekuensi getaran, dan menjadi minimal dalam kisaran frekuensi menengah yang mencakup suara-suara manusia, dan jauh lebih tinggi untuk frekuensi-frekuensi rendah dan tinggi. Selain itu, dalam kisaran tinggi gelombang yang mengaktifkan mata, sistem visual adalah paling peka dengan warna kuning dan kuning kehijau-hijauan, dan kurang peka terhadap merah dan biru.

Tinggi gelombang di luar kisaran ini tidak mengaktifkan sistem visual kendati radiasi infra merah terasa panas.

Kualitas sensasi entah itu dipersepsikan sebagai cahaya, suara, sakit, bau dan sebagainya tidak ditentukan secara langsung oleh sifat stimulus fisik tapi oleh jalur syaraf yang sedang diaktifkan. Kondisi-kondisi di bawah normal, energi cahaya biasanya akan menstimulasi jalur visual karena ambang cahaya untuk mata jauh lebih rendah dibandingkan bentuk-bentuk energi fisik lainnya. Namun, tekanan terhadap bola mata akan memberikan suatu sensasi cahaya. Selain itu, semua organ panca indera mempunya ambang terendah untuk bentuk-bentuk energi stimulus yang sesuai. Hubungan antara kualitas pengalaman sensorik dan jalur syaraf spesifik yang diaktifkan mengacu pada doktrin Mueller mengenai energi syaraf spesifik (specific nerve energies). Konsep ini penting dalam sejarah awal psikologi karena memfokuskan perhatian pada peran sistem syaraf dalam memerantarai pengalaman. Kita tidak mempersepsi dunia luar secara langsung, tapi lebih sebagai kesadaran terhadap aktivitas syaraf. Karena kesadaran dan pengetahuan bergantung pada aktivitas syaraf, sehingga kajian terhadap sistem syaraf adalah fundamental bagi ilmu psikologi.

Intensitas sensasi tidak bisa diramalkan dari energi absolut dalam stimulus tapi lebih berkaitan dengan beberapa energi stimulus ganda. Sebagai contoh, energi yang dibutuhkan untuk sebuah cahaya yang lebih terang dibandingkan cahaya lain bisa diramalkan berdasarkan rasio energi. Pertambahan suatu unit cahaya yang hanya bisa jelas ketika dipandang pada suatu latar belakang suatu unit 10 cahaya tidak akan terlihat ketika dipandang pada suatu latar belakang unit 100 cahaya. Perbedaan yang nyata ini bisa diprediksi melalui rasio energi. Ambang diferensial untuk latar belakang unit 100 dapat, dalam kasus ini, menjadi 10. Untuk suatu perkiraan pertama, rasio dari selisih nyata ini terhadap latar belakang dulunya dikenal sebagai hukum Weber adalah konstan. Pada abad ke-19, ahli fisika Fechner berpendapat, berdasarkan hukum Weber, bahwa daya tarik sensasi subyektif ditentukan oleh logaritma dari energi stimulus. Hubungan ini dipandang oleh Fechner sebagai mewakili suatu kuantifikasi pikiran dan solusi dari problem bentuk pikiran (mind body). Prosedur yang diberikan untuk mempelajari fungsi-fungsi sensorik, dikenal sebagai psikofisik, memberikan suatu metodologi yang penting dalam mendukung pembentukan psikologi eksperimental sebagai suatu pengetahuan laboratoris yang mandiri di akhir abad ke-I9.

Informasi dari panca indera digabungkan dengan pengalaman masa lalu, baik yang sadar maupun tidak sadar, membentuk kesadaran kita mengenai dunia luar dan membimbing motor respons kita. Untuk sebagian besar bagian, berbagai persepsi ini akurat, tapi ada juga contoh-contoh yang menunjukkan persepsi ini melakukan kesalahan. Persepsi tidak tepat mengacu pada ilusi, yang mungkin muncul ketika mekanisme normal diaktifkan secara tidak benar. Ketika melihat foto atau gambar dua dimensi, distorsi ukuran, bentuk dan arah mungkin terjadi karena penerapan yang salah dari sensorik dan mekanisme perseptual yang biasanya hanya untuk visi tiga dimensi. Ilusi, berbeda dengan halusinasi, yang mengacu pada persepsi yang tidak berdasarkan pada dunia luar. Sedangkan halusinasi biasanya terkait dengan psikopatologi, narkotika, atau patologi sistem syaraf.

Nilai penting teoretis dari sensasi dan persepsi berasal dari sudut pandang empiris dalam filsafat yang berusaha menjaga pengetahuan diperan- tarai oleh panca indera. Dalam konteks ini, keterbatasan sistem sensorik, ilusi, dan distorsi akibat pengalaman masa lalu atau biasa yang berkaitan dengan faktor-faktor motivasional memainkan suatu peran sangat penting, karena menentukan isi pikiran. Keunggulan dari pandangan empiris adalah bertanggung jawab terhadap penekanan atas kajian terhadap sensasi dan perepsi selama sejarah awal psikologi eksperimental.

Sistem sensorik bisa bertindak secara mandiri atau bersama dengan indera yang lain. ‘Rasa’ makanan muncul dari kombinasi antara masukan-masukan dari penciuman (olfaction), pengecap (gustation), perabaan dan kinestesis. Hal ini bisa didemonstrasikan dengan membandingkan beberapa rasa mak’anan ketika lobang hidung ditutup. Dalam kasus ini, rasa direduksi menjadi kombinasi yang kurang kompleks dari empat kualitas pengecapan (gustory) dasar yaitu asin, pahit, asam dan manis. Ragam lebh luas dari kualitas makanan sebagian besar dimungkinkan oleh tanda-tanda penciuman. Tampilan makanan, suhunya, dan kekenyalannya, juga ikut menciptakan sensasi yang kompleks ini.

Orientasi spasial bergantung pada integrasi dari informasi visual, vestibular, dan proprioceptive yang semuanya itu menunjang pemeliharaan tegaknya postur dan lokasi. Sifat interaktif dari sistem sensorik yang melayani orientasi spasial bertanggung jawab terhadap fakta bahwa aktivasi yang berlebihan terhadap indera vestibular dapat menyebabkan sensasi ilusionis sehingga dunia visual bergerak. Selain itu, jika sebuah area luas dari lingkungan visual digerakkan, si pengamat tetap yang obyektif akan mengalami suatu sensasi ilusionis dari gerakan tubuh (vection).

Keterkaitan antara pola fisik dari stimulasi dan persepsi kita mengenai dunia tetap meninggalkan suatu problem dari ketertarikan utama dalam persepsi. Jika dua cahaya tak bergerak dalam posisi berdekatan disorotkan secara bergantian, si pengamat akan melaporkan gerakan di antara kedua cahaya itu. Fenomena ini disebut oleh para ahli psikologi Gestalt dalam mendukung pendapat mereka bahwa persepsi mengandung lebih dari sekadar elemen-elemen stimulasi. Ini juga merupakan basis bagi gerakan yang dirasakan dalam gambar bergerak (film) dan televisi. Kontribusi si pengamat terhadap pengalaman per septual ditekankan dalam berbagai analisis teoretis tentang persepsi. Dalam kasus psikologi Gestalt, organisasi diberikan oleh elemen-elemen syarat yang inheren. Dalam konteks teori yang menekankan peran perhatian atau motivasi, si pengamat hanya ‘memilih’ aspek-aspek tertentu dari lingkungan untuk memproses dengan kata lain, kita cenderung melihat dan mendengar apa yang ingin kita lihat dan dengar dan secara aktif menolak informasi yang mempunyai potensi untuk memalukan atau tidak menyenangkan. Fenomena persepsi selektif ini diilustrasikan melalui reaksi kepada stimuli kesakitan yang mungkin bisa diminimalisasi atau diabaikan jika dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa yang menyenangkan seperti kemenangan dalam perlombaan atletik, tapi bisa dilaporkan sebagai sangat menyakitkan dalam kondisi-kondisi yang menyenangkan. Karena kajian tentang persepsi manusia sering bergantung pada laporan verbal dari seroang pengamat, sehingga tidak bisa dievaluasi secara langsung dan karena itu tunduk pada modifikasi melalui keadaan-keadaan motivasional.

Kontribusi aktif dari pengamat pada persepsi juga diilustrasikan dengan fenomena konstansi persepsi. Tahap pertama dari merasakan (sensing) atau mempersepsikan (perceiving) stimuli visual adalah formasi suatu pencitraan optik dalam mata. Pencitraan ini ditentukan oleh prinsip-prinsip geometris sehingga ukurannya akan berbanding terbalik dengan jarak dari si pengamat. Lepas dari banyaknya variasi dalam ukuran pencitraan retinal, ukuran berbagai obyek yang dipersepsikan cenderung konstan dan berkait dengan dimensi-dimensinya yang sebenarnya. Kecenderungan untuk mempersepsikan ukuran-ukuran obyek veridical meski pola pencitraan retinal terus berubah mengacu pada ‘kontansi’ perseptual. Atribut perseptual lainnya juga membuktikan efek konstansi. Mengerutnya pencitraan retinal akibat posisi pandang miring tidak dipersepsikan. Obyek-obyek sirkular tampak bundar kendati pencitraan retinal berbentuk elips, sebagai contoh, adalah konstansi bentuk. Ketika kita menggerakkan mata kita, pencitraan retinal juga bergerak tapi persepsi mengenai lingkungan tidak berubah, sebagai contoh, adalah konstansi ruang. Sebuah obyek putih tampak ‘putih’ dan sebuah obyek gelap tampak ‘gelap’ kendati berada dalam berbagai iluminasi ambient, sebagai contoh, adalah konstansi pencahayaan. Selain itu, warna-warna dari obyek cenderung tetap sama kendati kualitas spektral cahaya yang dipantulkan darinya bervariasi karena mereka diiluminasi oleh berbagai panjang gelombang yang diberikan oleh ilmuminasi alamiah dan artifisial, sebagai contoh, adalah konstansi warna. Berbagai konstansi perseptual adalah sangat penting dalam penyesuaian biologis karena memungkinkan organisme sadar dan merespon berbagai karakteristik fisik dari obyek yang bersifat permanen dan relevan dalam lingkungan tersebut. Mata akan dipersamakan dengan sebuah kamera, dan kedua bola mata adalah sama karena keduanya mempunyai suatu sistem optik untuk memfokuskan suatu pencitraan pada suatu permukaan sensitif cahaya. Namun, jika kamera bersifat pasif, mata sebagaimana sistem sensorik yang lain dihubungkan dengan otak sehing ga persepsi final adalah suatu hasil dari kombinasi aktif antara stimuli fisik dan informasi dari pengalaman masa lalu, motivasi dan emosi si pengamat.

Sensasi dan persepsi telah banyak menjadi bahan penelitian, bukan hanya karena peran pentingnya dalam mendapatkan pengetahuan dan dalam memerantarai kesadaran, tapi juga karena memainkan suatu peran sangat penting dalam berbagai aspek perilaku manusia dan binatang. Rasa sakit merupakan mekanisme protektif yang paling penting yang bisanya diaktivasi ketika integritas dari organisme tersebut dalam keadaan bahaya. Penciuman memberikan peringatan mengenai senyawa racun. Ancaman serius terhadap kesehatan merupakan suatu konsekuensi dari fakta bahwa sistem sensorik kita sama sekali tidak memberikan informasi tentang adanya beberapa bahaya, sebagai contoh, ionisasi radioasi, karbon monoksid, tahap-tahap awal dari suatu penyakit.

Pengetahuan tentang sensasi dan persepsi penting dalam evaluasi kinerja, prediksi dan dalam diagnosis medis. Banyak tugas dalam masyarakat modem telah menimbulkan tuntutan tidak lazim terhadap kapasitas sensorik individual sebagaimana, contohnya, dalam penerbangan. Tes batteries yang canggih telah dkembangkan untuk mengidentifikasi individu-individu yang memiliki kapasitas visual dan perseptual di atas rata-rata untuk mengoperasikan pesawat terbang kinerja tinggi. Dalam suatu masyarakat yang berorientasi pada teknologi, kemampuan untuk mendapatkan informasi dari tindakan membaca itu sangat diperlukan dan mengakibatkan perkembangan sistem perawatan yang ekstensif bagi kesehatan visual. Perubahan-perubahan sistemik dalam visi, keseimbangan dan pendengaran yang terjadi sebagai suatu konsekuensi dari penuaan adalah relevan bagi desain lingkungan aman. Tes-tes visual adalah sensitif terhadap patologi dan digunakan dalam mengevaluasi konsekuensi-konsekuensi penyakit, dalam diagnosis dan dalam evaluasi terapi.

Tes-tes perseptual memberikan suatu meto-dologi untuk dinamika kelompok evaluasi dan personalitas. Jika satu titik cahaya diam dipandang dalam ruang gelap, maka cahaya itu akan tampak bergerak. Perkembangan lebih lanjut dari gerakan otokinetik ini ditunjukkan oleh Sherif untuk menggantungkan pada besarnya gerakan nyata yang dilaporkan oleh pengamat-pengamat lain dan status sosial mereka. Sejauh mana laporan seseorang dipengaruhi oleh pengamat-pengamat lain dianggap sebagai suatu ukuran terhadap tekanan dan konformitas sosial. Stimuli ambigu juga digunakan untuk mengevaluasi personalitas. Dalam tes Rorschach, para subyek diminta untuk menggambarkan apa yang mereka lihat dalam pola-pola yang bentuk oleh titik-titik. Ini diasumikan bahwa berbagai laporan ini akan merupakan suatu refleksi dari dinamika personalitas individu yang terkait atau ‘diproyeksikan’ secara tidak sadar ke dalam sitmulus ambigu.