racism (rasisme)

Rasisme, yakni gagasan yang menyatakan bahwa ada hubungan langsung antara nilai-nilai, perilaku dan sikap-sikap kelompok, dan ciri-ciri fisiknya, adalah salah satu persoalan sosial utama yang dihadapi oleh masyarakat-masyarakat kontemporer. Rasisme adalah juga gagasan yang relatif baru: kelahirannya dapat dirunut dari kolonisasi bangsa Eropa di berbagai kawasan dunia, kebangkitan dan perkembangan kapitalisme Eropa, serta perkembangan perdagangan budak di Eropa dan Amerika. Kejadian-kejadian ini me-mungkinkan warna kulit dan ras menjadi pengikat penting dalam hubungan antara bangsa-bangsa Eropa, Amerika dan Australia. Meskipun keyakinan tentang mata rantai antara ras dan perilaku belum pernah dibuktikan, namun gagasan-gagasan yang mendukung hubungan ini sudah dianggap sebagai kebenaran dalam banyak masyarakat di dunia (Williams 1990). Memang, andaikata penegasan tentang hubungan seperti itu merupakan satu-satunya aspek yang mendefinisikan rasisme, maka dampaknya boleh jadi tidak begitu merusak, meskipun tetap kurang bisa diterima. Sebaliknya, ciri rasisme yang lebih negatif menimbulkan keyakinan bahwa sejumlah kelompok, yakni kelompok-kelompok dengan ciri tertentu, dengan sedikit kekuasaan dan status yang rendah, adalah inferior sedangkan kelompok-kelompok lainnya, dengan ciri yang lain, yang memiliki kekuasaan lebih besar dan status yang tinggi, dianggap superior.

Racisme adalah konsep yang sangat rumit dan memiliki banyak dimensi dan dapat dibagi-bagi dalam beberapa bidang, tetapi barangkali penting untuk dibedakan antara rasisme dan etnosentrisme, suatu konsep yang sering dikacaukan dan dipergunakan secara terbalik. Sebagai contoh, Jones (1981) memulai kritiknya tentang rasisme dengan membedakan dua istilah tersebut. Etnosentrisme berakibat diterimanya keyakinan bahwa individu-individu dan kelompok-kelompok berusaha menafsirkan berbagai peristiwa dan situasi, dan menilai berbagai tindakan, perilaku dan nilai individu-individu dan kelompok-kelompok lain dari perspektif kultural khusus mereka.

Pandangan ini dengan sendirinya beranggapan bahwa semua nilai yang mereka miliki “bisa diterima”, “benar”, dan “baik”; dan sebaliknya semua nilai masyarakat lain “tidak dapat diterima”, “salah”, dan “jelek”. Yang membedakan antara etnosentrisme dan rasisme adalah bahwa dalam etnosentrisme perbedaan tidak didasarkan pada alur-alur rasial atau warna kulit. Oliver C. Cox (1948) mengemukakan pandangan serupa dalam kajiannya mengenai kelas, kasta dan warna kulit: kajian mengenai berbagai peradaban dan kerajaan-kerajaan kuno menunjukkan bahwa etnosentrisme memang terbukti ada; etnosentrisme hanya terpusat pada bahasa dan budaya. Artinya, orang dikatakan beradab bila dia memahami bahasa dan budaya, tetapi bila dia tidak dapat memahami berarti dia orang barbar. Gagasan kuno bangsa Yunani yang membagi dunia menjadi dua wilayah, dunia beradab dan dunia barbar, merupakan gagasan tipikal.

Darwinism sosial abad ke-19 (Hofstadter 1955; Ryan 1981) meletakkan landasan bagi apa yang disebut “rasisme ideologis”. Logikanya adalah sebagai berikut: alam memberikan hadiah kepada kelompok-kelompok yang memenangkan perjuangan untuk mempertahankan keberadaannya; kelompok kuat, sebagai pemenang, mendapatkan hak untuk menguasai dan, dengan demikian, menentukan nasib kelompok yang kalah, yaitu kelompok yang lebih lemah. Kelompok yang kalah mengakui kelemahan dan inferioritas mereka. Karena ideologi ini muncul secara bersamaan dengan bangkitnya imperialisme dan kolonialisme Eropa di beberapa benua, dan menegaskan peristiwa-peristiwa ini, dan karena bangsa-bangsa dan ras-ras yang dijajah adalah bangsa-bangsa Afrika, Asia dan penduduk asli Amerika, maka hubungan erat antara ras, warna kulit dan gagasan-gagasan tentang superioritas atau inferioritas dianggap oleh bangsa-bangsa Eropa dan Amerika sudah mendapatkan pengakuan.

Karena kekuatan politik, ekonomi dan budaya bangsa-bangsa Eropa dan Amerika semakin dalam tertanam di wilayah yang disebut oleh DuBois sebagai “dunia kulit berwarna”, maka dilakukan upaya lain untuk mengesahkan ketidakadilan rasial. Itulah satu doktrin baru yang barangkali bisa disebut sebagai “rasisme ilmiah”. Rasisme ini menggunakan “cara-cara ilmiah” untuk memantapkan kepercayaan akan adanya superioritas rasial bangsa-bangsa Eropa dan Amerika. Cara pertama adalah penggunaan tes IQ “obyektif” yang hasilnya digunakan untuk menegaskan posisi bangsa-bangsa Eropa yang lebih tinggi daripada posisi ras-ras lain dalam sebuah hirarki rasial. Hampir bersamaan dengan digunakannya “tes ilmiah” itu juga digunakan ukuran otak untuk membuktikan inferioritas atau superioritas. Karena itu, orang-orang yang percaya dengan ketidakadilan rasial biasanya membawa-bawa nama Ilmu Pengetahuan untuk mendukung upaya mereka dalam rangka mendominasi dan menguasai ras-ras dan benua-benua lain. Pierre Van Den Berghe (1964) mematahkan logika kelompok rasis ketika dia menyatakan bahwa meskipun inferioritas atau superioritas sering dibicarakan, namun beberapa kelompok mendominasi kelompok lain karena hanya dengan melakukan hal itulah mereka bisa menegakkan dan melaksanakan ketidakadilan. Namun dapat dikatakan bahwa ketidakadilan itu memiliki motif terselubung yang bahkan lebih penting daripada gagasan tentang rasisme itu untuk mengisolasi, menghukum, mengasingkan dan mengusir kelompok paria itu keluar dari kehidupan normal dan dari wacana sosial, politik, ekonomik dan budaya sehingga, dalam kenyataannya, kelompok paria itu akan dibuat “inferior”.

Selama tahun 1960-an ketika ras dan rasisme merupakan tema-tema penting, Stokely Carmichael dan Charles Hamilton (1967) menampilkan istilah “rasisme institusional”, yang digunakan dalam kaitan dengan “rasisme individual” untuk membedakan arti penting antara keduanya. Seorang individu bisa saja menjadi seorang rasis dan memilih untuk melakukan diskriminasi terhadap individu atau kelompok lain. Tindakan individual ini berbeda dengan rasisme institusional di mana jaringan-jaringan organisasionalnya terkait dengan berbagai aturan, prosedur dan pedoman sehingga sulit bagi anggota suatu kelompok untuk berafiliasi secara kelembagaan. Dalam hal ini, tidak terlalu banyak individu yang melakukan diskriminasi meskipun individu bisa saja melakukannya sebagai seorang penyelia atau manajer perusahaan. Dalam rasisme institusional, aturan-aturan dan prosedur-prosedur institusional ditegakkan berdasarkan berbagai kualifikasi dan pembakuan dari kelompok yang berkuasa sebagai alat untuk mengeluarkan kelompok-kelompok lain, meskipun barangkali hal ini bukan maksud dari aturan, prosedur dan pedoman yang asli. Dalam kenyataannya, individu yang dipekerjakan dalam lembaga-lembaga rasis bisa membuktikan tidak adanya rasisme mereka sendiri sembari menyatakan bahwa mereka juga terperangkap dan terpenjarakan oleh berbagai hukum, peraturan dan prosedur itu. Namun ada beberapa contoh di mana institusi-institusi secara sukarela dan secara sengaja melakukan diskriminasi. Sejak pertengahan tahun 1980-an, misalnya, pemerintah Amerika Serikat sudah membongkar pola-pola rasisme institusional dalam hal perumahan, kesempatan kerja, pendidikan dan perbankan, yang pada umumnya ditujukan kepada kelompok-kelompok ras minoritas. Tumer et. d. (1984) menyajikan

sejarah ringkas jaringan-jaringan terkait yang memberikan kekuasaan dan kekuatan kepada rasisme yang mengabadikan berbagai institusi. Salah satu konsekuensi yang mencolok dari intensitas pola-pola rasisme institusional tradisional adalah besarnya warga kulit putih Amerika dan warga kulit putih di Afrika Selatan dan Inggris mendapatkan program-program masai yang positif di mana mereka, yakni bangsa-bangsa berkulit putih, memiliki hak monopoli atas berbagai pekerjaan. pendapatan dan posisi-posisi birokratik, sementara mereka yang tidak berkulit putih disingkirkan dari bidang yang kompetitif itu. Baru- baru ini saja kita mulai memahami sebegitu jauh aksi positif bagi bangsa-bangsa berkulit putih selama berabad-abad telah menempatkan kelompok-kelompok minoritas pada peranan sekunder dalam bidang-bidang ekonomi, politik, pendidikan dan bidang-bidang kehidupan sosial lainnya.

Di Amerika Serikat perhatian dipusatkan pada gagasan tentang “rasisme terbalik”. Rasismedalam bentuk apa pun, yang dipraktekkan oleh kelompok apa pun, harus ditentang dan diperbandingkan, tetapi gagasan bahwa kelompok-kelompok minoritas di Amerika Serikat sekarang memiliki kekuatan memadai untuk merugikan kepentingan-kepentingan kelompok mayoritas tidak sesuai dengan fakta-fakta yang ada. Dalam semua bidang kehidupan (politik, ekonomik, pendidikan, dan sebagainya) bangsa-bangsa berkulit putih tetap memegang monopoli yang sangat besar. Bila kita melihat secara cermat data yang disajikan oleh mereka yang menyatakan bahwa rasisme terbalik adalah memang ada, kita pada umumnya melihat bukti yang sangat lemah di mana banyak di antara informasi yang digunakan diperoleh dari tangan ketiga atau keempat, yakni, teman dari teman mengatakan bahwa temannya tidak mendapatkan pekerjaan atau kehilangan pekerjaannya karena diambil oleh orang berkulit hitam. Bila penggambaran ini dipakai, maka kelompok minoritas yang mendapatkan pekerjaan atau promosi jelas kurang bermutu, sangat tidak kompeten, dan sebagainya. Di Amerika Serikat, seseorang anggota kelompok minoritas yang termasuk rasis bisa mencerca seseorang anggota kelompok mayoritas, tetapi dalam bidang kehidupan apa pun di Amerika tidak ada kelompok minoritas, yang mungkin rasis juga, dalam posisi menguasai secara institusional atau menentukan struktur kesempatan [kerja] bagi kelompok mayoritas. Bila kelompok-kelompok mayoritas adalah rasis, dan bila mereka mengasai lembaga-lembaga penting, sebagaimana digambarkan oleh Turner et. al. (1984), maka mereka dapat dan benar-benar menguasai struktur kesempatan [kerja] itu bagi orang-orang dari kelompok minoritas.

Sejak tahun 1960-an ketika analisis rasial menjadi isu penting dalam hubungan sosial, banyak data sudah dikumpulkan untuk melakukan verifikasi terhadap konsekuensi-konsekuensi negatif dari rasisme terhadap kelompok-kelompok minoritas. Secara umum, konsekuensi-konsekuensi negatif ini bergaung seputar tema ketidakmampuan dalam semua bidang. Pada tahun 1980- an sejumlah pakar sosiologi mulai memusatkan perhatian pada dampak rasisme terhadap bangsa-bangsa berkulit putih (Dennis 1981). Pergeseran baru terhadap konsekuensi-konsekuensi rasisme ini sedikit menggeser pusat perhatian itu, karena ia menyatakan bahwa rasisme tidak sekadar merupakan sesuatu yang terjadi terhadap orang- orang yang tertindas bahkan terdapat isu-isu sosial, emosional dan etika bagi budaya kelompok mayoritas yang menguasai institusi-institusi yang membentuk sumber rasisme yang berkesinambungan. Perhatian juga ditujukan pada gagasan bahwa rasisme barangkali secara lebih sadar mengarahkan tindakan dan gagasan daripada sesuatu yang diduga sebelumnya. Dalam kajian yang dilakukan tahun 1981 (Dennis 1981), dinyatakan bahwa ternyata banyak orang tua benar-benar melakukan sosialisasi pada anak-anak mereka untuk menjadi pendukung rasisme pendidikan rasial memang tidak terjadi secara kebetulan. Anak-anak dibimbing dalam pendidikan yang rasial oleh orang-orang dewasa, terutama

para orang tua (Dennis 1981; 1994). Namun selama umur belasan, mereka bahkan anak- anak dari keluarga-keluarga yang paling rasis justru cenderung menjauhkan diri dari pandangan orang tua mereka dan menegaskan pandangan mereka sendiri terhadap kelompok lain yang didasarkan atas hubungan mereka dengan kelompok-kelompok ini di sekolah, di tempat pekerjaan atau di berbagai lingkungan sosial.

Pada pertengahan tahun 1990-an, pengha-pusan [politik] apartheid di Afrika Selatan tentu saja akan mengubah sejarah rasial di negara itu. Tetapi sekarang kita mengetahui, berdasarkan sejarah di Amerika Serikat dan Inggris, bahwa pencabutan hukum-hukum yang rasial saja tidak akan mengakhiri rasisme. Meskipun banyak mitos tentang ras tetap berada dalam berbagai tatanan institusional, namun sebagian besar lainnya tetap berada dalam pola-pola pemikiran rasial dan orientasi ideologis dari individu-individu dan kelompok-kelompok dalam masyarakat. Hukum-hukum yang membatasi diskriminasi sampai tingkat tertentu barangkali efektif, dan berbagai kelompok mungkin menjadi cukup takut dengan sanksi yang akan mereka terima atas perlakuan diskrimitif itu, namun rasisme ideologis, yang diabadikan dalam mitos-mitos rasial yang tertanam dalam masyarakat, hidup terus di kalangan penduduk dalam banyak bentuk. Maka inilah batu ujian bagi bangsa-bangsa yang memiliki berbagai kelompok rasial dan yang memiliki sejarah dominasi dan konflik rasial: bagaimana cara menegakkan keadilan individual dan kelompok bagaimana menanamkan keyakinan bahwa perbedaan-perbedaan kultural dan rasial kelompok-kelompok sebagai realitas-realitas sosial dan biologis yang obyektif tanpa dibarengi dengan perbedaan-perbedaan individu.