BAGIAN DAN KESELURUHAN

1. Bagian dan Keseluruhan sudah menjadi masaiah sejak dulu (sejak Plato dan teristimewa sejak Aristoteles). Kemudian masalah ini menjadi kesibukan aliran-aliran besar dalam dunia filsafat. Materialisme memberikan penafsiran mekanistik tentang keseluruhan. Teori ini dipinjam dari mekanika (kemudian dari fisika klasik). Kelompok idealis berpendapat bahwa keseluruhan tidak dapat diredusir ke dalam bagian-bagian. Hanya hasil usaha mental saja yang memungkinkan keseluruhan sejati. Mereka menganggap entitas material sebagai kumpulan yang tidak bernyawa dan bersifat mekanik. Premis inilah yang menjadi dasar pertentangan antara pengetahuan filosofis dengan ilmu pengetahuan (sains).

2. Filsuf-filsuf klasik Jerman seperti Schelling, Hegel membedakan keseluruhan yang bersifat inorganik (mekanik) dari yang organik (mampu mengembangkan diri sendiri). Keseluruhan yang organik seperti yang dimaksudkan terakhir, dihubungkan dengan perkembangan roh, jiwa dan bukan materi. Pada abad 19 — 20, terdapat banyak aliran yang bersifat idealis seperti Neovitalisme, holisme, intuisionisme, yang secara luas mengikuti spekulasi idealistik tentang Bagian dan Keseluruhan.

3. Pendapat lain tentang persoalan Bagian dan Keseluruhan ini melihatnya secara dialektis (materialisme dialektis). Fakta berbicara bahwa suatu keseluruhan yang rumit tidak dapat begitu saja direduksi ke dalam sejumlah bagian. Hal ini dapat dibuktikan tidak hanya secara teoretis, tetapi juga secara eksperimental. Keseluruhan mendapat ciri dan kualitas baru. Ciri dan kualitas ini tidak ada pada bagian-bagian yang mengadakan interaksi. Ini disebut ciri entitas keseluruhan. Ciri ini dapat diacu sebagai ciri integralitas. Ini disebut ciri umum untuk semua bagian khusus. Misalnya: timbulnya aspek-aspek baru dalam proses perkembangan, timbulnya tipe-tipe baru, terbentuknya tingkat-tingkat struktur baru dan saling ketergantungan yang berjenjang (hirarkis), adanya pembagian seluruh sistem atas yang organik dan tidak organik. Komponen-komponen dari keseluruhan organik tidak dapat dipandang terlepas dari keseluruhan sebagai bagian-bagian yang berdiri sendiri. Demikianlah, materialisme dialektis mau menjelaskan paradoks pengetahuan tradisional tentang bagian dan keseluruhan. Paradoks itu dirumuskan oleh pengikut materialisme dialektis: Bagaimana suatu Keseluruhan dapat diketahui, kalau pengetahuan yang mendahuluinya, yakni tentang bagian-bagian diandaikan begitu saja. Jawaban materialisme dialektis dirumuskan sebagai berikut: Keseluruhan dan Bagian-bagian terjadi secara serempak. Artinya, dengan mengatakan ini bagian-bagian, bersamaan dengan itu kita mempelajarinya sebagai unsur-unsur dari satu Keseluruhan. Keseluruhan ini tampak sebagai sesuatu yang bersifat struktural secara dialektis, yang terdiri dari bagian-bagian.

Filed under : Bikers Pintar,