STOISISME

Inggris: stoicism.

Aliran filsafat Yunani-Romawi yang didirikan tahun 108 SM di Athena oleh Zeno dari Citium, dan memperluas pengaruhnya yang terbesar dalam Kekaisaran Romawi, di mana kadang ia merupakan pengaruh intelektual yang dominan. Nama mazhab ini diambil dari lokasi di Athena tempat pertama kali mazhab ini ditemukan. Ajaran-ajaran sekolah ini berbagai-bagai. Tetapi ajaran- ajaran itu meliputi pengembangan logika (terbagi ke dalam retorika dan dialektika), fisika, dan etika yang juga memuat teologi. Malah kaum Stoa rupanya telah memperkenalkan pembagian filsafat ke dalam tiga disiplin tadi. Dalam banyak analisis Stoik pembagian rangkap-tiga juga menggantikan tiga keutamaan, yang didefinisikan sebagai tujuan atau kesempurnaan suatu barang. Oleh etika-lah mazhab ini menjadi ternama. Apathia atau kepasrahan atau tawakal mendorong seseorang untuk menerima keadaannya di dunia, dan melihat ini sebagai refleksi (pencerminan) akal tertinggi dan terdalam semua hal. Hidup menurut akal berarti menyederhanakan kehidupan seseorang. Dalam teodise diasumsikan bahwa akal du¬nia mengendalikan alam raya; dan bila seseorang hidup menurut akalnya sendiri ia bersentuhan dengan akal universal. Konsep kodrat merupakan kategori terakhir dan menyeluruh yang merangkum semua hal: ilahi, manusiawi, dan submanusiawi. Sejarah mazhab ini dibagi ke dalam tiga periode: Stoisisme Kuno, Stoisisme Periode Tengah, dan Stoisisme Baru.

Beberapa Pokok Pemikiran

1. Kaum Stoa menggabungkan ajaran fdsuf-filsuf kuno dengan pemikiran Plato dan Aristoteles. Dengan keyakinan besar mereka mengajarkan etos dan sikap baru yang mempunyai pengaruh mendalam terhadap etika. Di antara tiga bagian filsafat logika, fisika, etika yang terakhir memiliki tempat kehormatan pertama.

2. Ideal Stoisisme adalah manusia bijaksana yang hidup selaras dengan alam, mengendalikan afeksi-afeksinya, menanggung penderitaan secara tenang dan sebagai tujuan kehidupannya ialah rasa puas dengan kebajikan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan (Eudaimonia).

3. Allah adalah spesies jiwa dunia. Dia memiliki di dalam diri- Nya sendiri benih atau daya-daya seminal (logoi spermatikoi) untuk setiap perkembangan sehingga setiap peristiwa seakan direncanakan dan menjadi akibat providentia (penyelenggara). Dalam setiap hal kebebasan pribadi ditiadakan.

4. Stoisisme bukan filsafat spekulatif dan sistematik, melainkan pandangan tentang kehidupan yang secara mendalam memperhatikan emosi-emosi manusia. Sebagai pengganti agama ia berupaya memperlihatkan manusia bagaimana memiliki jiwa dalam kedamaian. Sikap ini mempengaruhi perlakuannya terhadap kebajikan-kebajikan. Dan tulisan-tulisan Stoa cenderung bernada moralis.

5. Anjuran kesamaan semua manusia merupakan karakteristik sebagaimana juga suatu kosmopolitanisme tertentu. Banyak konsep dan pembedaan-pembedaan Stoisisme diambil oleh Bapa- bapa Gereja Kristen, tetapi hanya sesudah mereka memurnikannya dari suatu kebanggaan moralistik terahadap kebajikan dan dari suatu anggapan yang terlampau negatif terhadap afeksi-afeksi manusiawi.

Sejarah Perkembangan Pemikiran

1. Stoisisme Kuno mulai dengan pendirinya: Zeno dari Citium. Pada kurun waktu ini logika dan epistemologi dikembangkan, di samping juga fisika. Logika mereka menekankan kalkulus proposisional dan menurunkan kaitan-kaitan logis dari akal sendiri oleh semacam keharusan atau keniscayaan logis. Epistemologi Stoik menyumbangkan ungkapan “paham umum” kepada filsafat. Mereka berpandangan bahwa semua manusia mempunyai sekumpulan ide yang umum. Ide-ide ini menyiapkan titik tolak pengetahuan. Ide-ide itu jamak dan berperan dalam synkatatbesis (atau penerimaan proposisi-proposisi sebagai benar). Ide-ide berpautan dengan banyak bidang, termasuk pengetahuan kita tentang dunia luar.

Fisika Stoik menekankan hakikat jasmani semua benda, dan memandang dunia sebagai sesuatu yang dapat ditentukan.

Namun begitu, determinasi itu merupakan penataan semua hal menurut akal universal atau logos yang terkendali  rupanya berkat pneima yang menghidupkan dan mengendalikan semua materi. Sebagaimana para pengikut Herakleitos, mereka meman-dang api sebagai elemen sentral yang berpautan dengan semua elemen lain, suatu keseluruhan yang memperlihatkan suatu ketegangan yang harmonis.

Kaum Stoa kuno juga mengembangkan paham tahun-dunia, suatu siklus waktu raksasa yang menuju kepada penghancuran dan kelahiran kembali dunia oleh api secara berkala.

2. Periode Tengah Stoisisme antara lain meliputi Panaetius dan Posidonius sang ensiklopedis. Periode ini ditandai oleh kecen- drungan kepada ensiklopedisme, sinkretisme, dan panteisme.

3. Stoisisme Baru berkoinsidensi dengan periode Kekaisaran Romawi, dan mencakup antara lain tokoh-tokohnya Seneca, Epic- tetus dan Marcus Aurelius. Dalam periode inilah etika Stoisisme ditekankan secara paling lengkap. Penekanan Stoisisme pada pengendalian hidup oleh akal meluas kepada kewajiban umum. Namun demikian, penekanan itu juga menuju pandangan bahwa kadang menghabisi nyawa sendiri itu masuk akal.