SKEPTISISME

Inggris skepticism, dari Yunani skepsis (pertimbangan atau keraguan). Beberapa Pengertian

1. Suatu paham bahwa kita tak dapat mencapai kebenaran. Paham ini bisa bersifat deskriptif: de facto kita tidak dapat mencapai kebenaran karena kondisi tertentu; atau preskriptis: seharusnya kita mendekati sesuatu dengan sikap skeptis karena kondisi tertentu.

2. Suatu paham bahwa kita tidak dapat mengetahui realitas. Skeptisisme melebar dari ketidakpercayaan komplit serta total akan segala sesuatu ke keraguan tentatif akan proses pencapaian kepastian.

Pandangan Beberapa Filsuf

Skeptisisme adalah pandangan bahwa akal tak mampu sampai pada kesimpulan, atau kalau tidak, akal tidak mampu melampaui hasil-hasil yang paling sederhana. Kaum Skeptik yang lebih ekstrem sering disebut kaum Pironis, sesuai dengan Piro, pendiri tradisi skeptis. Istilah “skeptisisme moderat” cocok untuk versi doktrin itu yang kurang ekstrem, yang digunakan untuk, misalnya, para anggota Akademi Kedua dan Ketiga. Bahkan sekarang istilah “Pyrrhonisme” sering diterapkan pada skeptisisme ekstrem, kendati penggunaan ini tidak seluruhnya konsisten.

1. Piro berpendapat bahwa kita mesti menangguhkan semua keputusan, seraya membuat diri kita diam seribu bahasa me¬ngenai segala sesuatu. Kurang ekstrem dibandingkan gurunya, Timon dari Phlius menjawab keberatan para penentangnya dengan puisi-puisi satiris.

2. Arcesilaus, pendiri Akademi Kedua, melanjutkan pandangan yang moderat dan mengembangkan konsep probabilitas.

3. Pendiri Akademi Ketiga, Carneades meneruskan penekanan pada probabilitas seraya mengembangkan argumen-argumen skeptis melawan, misalnya, Allah dan kausalitas dalam bentuknya yang paling kuat.

4. Aenesidemus menghidupkan kembali pandangan-pandangan Piro yang lebih ekstrem, dengan mengungkapkan dasar-dasar skeptisisme dalam sepuluh trope.

5. Cicero melanjutkan tradisi skeptisisme moderat, sebagai seorang filsuf eklektik yang mendapat banyak pengaruh.

6. Yang disebut di atas semua hidup dalam abad ke-4 SM. Pada abad ke-2 dan ke-3 M, tampil pendukung skeptisisme terkenal lainnya. Agrippa mengikhtisarkan dasar-dasar skeptisisme dalam lima trope, seraya menekankan tiadanya kriteria.

7. Dalam periode yang sama Sextus Empiricus menekankan keharusan kriteria untuk kriteria, dan mengikhtisarkan argumen- argumen skeptisnya dalam tiga trope. Karena ia meninjaut kembali argumen-argumen para pendahulunya, karya Sextus Empiricus merupakan sumber untuk kebanyakan pengetahuan kita tentang skeptisisme.

8. Pada abad ke-4 St. Agustinus menyatakan bahwa skeptisisme tidak konsisten. Skeptisisme mengatakan bahwa kita tidak dapat mengetahui realitas dan hanya ditipu oleh gambaran- gambaran kita mengenai realitas, atau kesan-kesan yang kita terima mengenai realitas; tetapi, kalau itu benar, realitas sendiri lalu muncul secara jelas. Dia mengatakan: “Si fallor, sum” (jika saya keliru, saya ada).

9. Kurang lebih 1000 tahun kemudian Pico della Mirandola pada abad ke-15 pada dasarnya mengikuti jejak Agustinus, dengan menggunakan skeptisisme untuk mengantar manusia kepada agama sejati.

10. Montaigne, dengan menggunakan semboyan “saya tahu apa?”, kembali kepada Piroisme dengan tahu dan mau, dengan menunda keputusan menyangkut semua hal. Namun ia kembali kepada Piroisme dengan suatu perbedaan. Tidak saja ia menjunjung kehidupan yang sederhana dan alamiah, tetapi juga ia menggunakan skeptisisme untuk memungkinkan kehidupan iman.

11. Mersenne menganggap ilmu sebagai jembatan antara skeptisisme dan dogmatisisme, sekalipun ilmu bergumul dengan dunia fenomenal semata.

12. Descartes mengangkat posisi yang sama dengan St. Agustinus, seraya mengubah pandangan skeptisisme dengan irtenrforongnya ke batas-batas finalnya. Kepastian pertama ialah “Cogito, ergo sum” (“Saya berpikir, maka saya ada”). Skeptisismenya disebut skeptisisme metodis. Skeptisisme itu justru dipakai sebagai metode untuk mencapai kebenaran.

13. Gassendi mengajukan problem kriteria tentang kriteria (secara skeptis), dengan menerapkan ini pada penyamaan kebenaran dengan ide-ide yang jelas dan terpilah-pilah (dari Descartes).

14. Pascal, dipengaruhi Montaigne, menganggap skeptisisme dan dogmatisisme sebagai pembagian utama filsafat. Menurutnya, satu-satunya jalan keluar yang absah dari ketidakpastian ialah merendahkan akal seseorang dan kemudian berbalik dengan kerendahan hati kepada iman.

15. Hume memasukkan skeptisisme ke dalam sistem filsafatnya. Keyakinan kita bertumpu pada probabilitas yang pada gilirannya bersandar pada kebiasaan.

16. Kant mendasarkan skeptisismenya berdasarkan struktur subjek pengetahuan. Dalam diri subjek ada beberapa kategori yang digunakan untuk memandang realitas, dan sebenarnya yang dikenal lalu bukan realitas sendiri, melainkan kategorinya (atau realitas sejauh diinterpretasi dengan kategori itu). Ding an sich, realitas pada dirinya sendiri, tidak dapat diketahui.

17. Royce, agak dekat dengan Agustinus dan Descartes, menganggap fakta skeptisisme menyiratkan eksistensi kebenaran. Dalam bahasa dia, ini menyiratkan suatu “kebenaran mutlak”.