REALISME

Inggris: realism, dari Latin res (hal, benda, barang).

Pengertian Umum

1. Upaya melihat segala sesuatu sebagaimana adanya tanpa idealisasi, spekulasi atau idolisasi.

2. Menerima fakta-fakta apa adanya, betapapun tidak menyenangkan.

3. Dalam filsafat istilah ini mempunyai dua referensi utama. Dalam problem universalia (hal-hal universal) Realisme mengambil posisi berlawanan dengan Nominalisme. Dalam problem ketak.- tergantungan dunia eksternal, Realisme bertentangan dengan Idealisme.

Dalam Perjalanan Sejarah

A. Realisme dalam penggunaannya pertama mempunyai sejarah yang panjang. Perjalanan perdebatan, yang berpusat pada Abad Pertengahan, diuraikan di bawah judul Universalia. Realisrnt merupakan salah satu pandangan dalam perdebatan itu. Dalam kaitan ini posisi Realisme adalah bahwa universalia (hal-hal universal) mempunyai realitas sendiri dan berada di luar pikiran Pandangan-pandangan sering mencolok, mulai dari Realisme yang moderat sampai dengan yang absolut. Semakin definitif pasti dan kekal status universalia, semakin absolut Realisme itu.

1. Plato biasa dianggap sebagai seorang realis absolut, sedangkan Aristoteles realis moderat. Sesungguhnya terdapai kontinuum dari Nominalisme (pandangan bahwa universali hanyalah sebuah nama), melalui Konseptualisme (pandangan bahwa universalia hanya ada dalam pikiran), hingga Realisme yang moderat dan yang absolut.

2. Dalam daftar di bawah ini kita tidak membedakan kaum realis yang moderat dari yang absolut. Setelah Plato dan Aristoteles, para filsuf yang menganut pandangan Realisme berkenaan dengan universalia meliputi: Plotinus, Porphyry, St. Agustinus, Boethius, Erigena, Avicenna, Anselmus, Wil¬liam dari Champeaux, mungkin Abelardus, Gilbert dela Porree, Thomas Aquinas, mungkin Duns Scotus, John Wy- cliffe, Hegel, EH. Bradley, Blanshard, Royce, Whitehead, Russel, Moore, sejumlah wakil kaum Realis Baru seperti Holt dan Montague, dan juga beberapa kaum Realis Kritis, misalnya Santayana. Dari Hegel sampai dengan Royce, daftar di atas terdiri dari kaum Idealis dan pandangannya tentang universalia.

Dalam kontroversi yang lebih mutakhir tentang Idealisme, istilah ini menggantikan pandangan bahwa objek pengetahuan berada tak tergantung dari kesadaran kita. Karena objek-objek pengetahuan meliputi benda maupun pemikiran, dalam kebanyakan doktrin modern Realisme, Realisme berubah menjadi klaim bahwa baik benda maupun konsep memiliki eksistensi real. Sejauh konsep-konsep dianggap mengandung objektivitas universalia dan memang sering begitu arti yang kedua dari istilah ini sebenarnya sama saja dengan yang pertama.

3. Terdapat puspa ragam tipe Realisme filosofis. Ilmu pengetahuan modern, dengan penekanan awalnya pada kausalitas dan pengukuran kuantitatif, menyediakan jalan bagi Realisme Representatif. Ini merupakan doktrin, yang cukup jelas dipaparkan oleh Locke, bahwa kesadaran kita terjadi dari data inderawi dengan berbagai jenis yang kurang lebih mewakili dunia. Bagi Locke kualitas-kualitas primer (misalnya sosok) mewakili dunia, sedang kualitas-kualitas sekunder (misalnya warna) mempunyai dasarnya dalam dunia, tetapi tidak mewakili dunia sejauh ada. Pandangan ini menerangkan kekeliruan dengan cukup memadai. Kita tak jarang salah menafsirkan data indrawi. Karena kita tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan pancaindera, pandangan ini tidak menerangkan kebenaran dengan memadai.

4. Kesulitan-kesulitan Realisme Representatif menyediakan setidaknya bagian dari konteks yang mendorong Berkeley sampai pada sistem Idealismenya. Salah satu jawaban abad ke-18 atas Berkeley adalah Realisme Akal Sehat Thomas Reid. Reid berpandangan bahwa prinsip-prinsip akal-sehat sungguh-sungguh benar, dan opini-opini yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ini mendapatkan kredibilitasnya hanya dari “pesona perkataan”. Prinsip-prinsip ini berhubungan khususnya dengan eksistensi dunia luar, pribadi lain, dan pertanyaan yang bersangkutan.

5. Idealisme merajalela dalam abad ke-19. Jawaban Neo-Kantian atas Idealisme Jerman mengisahkan bagian sejarah ini. Kaum Neo-Kanrian tertentu (antara lain Aloys Riehl) menamakan dirinya Realis dalam filsafat.

6. Gerakan Realisme Baru pada awal abad ke-20 merintis jawaban kepada Idealisme Inggris dan Amerika. Idealisme macam ini menandaskan relasi internal pengetahuan dengan objeknya. Sejumlah besar filsuf mengambil bagian langsung atau tak langsung dalam gerakan Realisme Baru, termasuk G.E. Moore yang sebenarnya menghidupkan kembali Realisme Akal Sehat Reid, James, Russel, dan enam orang Realis Baru Amerika: Holt, Montague, Perry, Pitkin, Spaulding. dan Marvin.

7. Realisme Kritis, sebaliknya, berdiri untuk melawan Realisme Baru. Dalam arti tertentu, Realisme Kritis melengkapi lingkaran. Alasannya, Realisme Kritis, sama seperti Realisme Representatif, mengakui triade perbuatan persepsi, data-indrawi, dan benda. Kaum Realis Kritis mengklaim telah mengatasi bantahan-bantahan utama terhadap Realisme Representatif dengan berangkat dari objek. Tetapi ini rupanya suatu kemenangan karena fiat (otoriter) dan masalah bertolak dari data-indrawi ke objek tetap tak terjawab.

8. Upaya untuk memecahkan masalah itu dengan kembali setidaknya sebagian kepada Idealisme datang dari E.B, McGilvary dalam Realisme Perspektifnya. McGilvary, yang menganjurkan Realisme seraya tetap jauh dari Realisme Kritis dan Baru, berpandangan bahwa sensasi (pencerapan) atau kesadaran meliputi objek dari sudut yang mengindera. Perspektif-perspektif, semacam deretan hubungan di antara benda-benda, tidak bereksistensi dan tidak bersubsistensi, melainkan “berintersistensi”. Pendekatan umum ini pada problem itu juga mendapat dukungan dari Relativisme Objektif A.E. Murphy. Ia menemukan dalam penekanan ini suatu pendekatan baru pada filsafat.

9. Lenin mengedepankan suatu Realisme Epistemologis dari jenis yang paling harfiah. Menurutnya, isi atau kandungan pikiran kita sudah pasti mengkopi (mereproduksikan) realitas di luar pikiran.

10. Meskipun Moore maupun kaum Realis Kritis mengklaim sebagai Realis Akal Sehat, penerus yang paling mungkin dari filsafat Reid dijumpai di kalangan para filsuf linguistik Oxford. Mereka menganjurkan pandangan-dunia akal-sehat, seraya mengritik teori data-indrawi. Ryle berbuat begitu dalam arti umum, seraya meninggalkan pembedaan-pembedaan tradisional. Sedangkan Austin bekerja dengan efektif melawan kelemahan teori data-indrawi itu sendiri.

11. Kita juga harus menyebutkan doktrin Realisme Naif, yang tidak dianut oleh siapa pun, tetapi dikupas luas, bahwa semua karakteristik yang kita indra dalam objek-objek benar-benar karakteristik objek-objek itu.