ANEKDOT adalah bagian dari dongeng, yaiiu kisah fiktif lucu yang menimbulkan rasa geli dan tertawa, baik bagi yang mendengar maupun bagi yang menceritakan. Tetapi sebaliknya, anekdot dapat pula menimbulkan rasa sakit hati bagi tokoh-tokoh tertentu yang menjadi sasaran dongeng itu. Anekdot menyangkut kisah lucu dari pribadi seseorang atau beberapa tokoh yang benar-benar ada, tetapi kisahnya tidak pernah benar-benar terjadi, meskipun diceritakan seolah-olah benar-benar terjadi. Yang diceritakan bisa tokoh- tokoh yang masih hidup, bisa pula yang sudah meninggal. Bila yang diceritakan menyangkut sekelompok orang atau anggota suatu masyarakat, suku bangsa, golongan, bangsa dan ras, kisah lucu itu disebut lelucon.

Menurut ahli folklor Indonesia, James Danandjaya, anekdot dapat dianggap sebagai bagian dari “riwayat hidup” fiktif pribadi tertentu, sedangkan lelucon adalah “sifat” atau “labial” fiktif anggota suatu masyarakat kolektif. Kiwayat hidup maupun tabiat tokoh-tokoh anekdot maupun lelucon disebut fiktif, karena lidak berdasarkan fakta melainkan berdasarkan prasangka yang disebabkan perasaan sentimen atau pengetahuan yang berdasarkan stereotip. Dengan mengelabui hal ini, sebenarnya tidak ada alasan bagi seseorang atau sekelompok orang untuk merasa tersinggung, marah, apalagi mendendam untuk membalas sakil hati apabila menjadi sasaran suatu anekdot atau lelucon.

Bagi masyarakat pemiliknya, anekdot memiliki fungsi-fungsi sosial, yakni sebagai penghibur hati, sebagai penyalur ketegangan yang ada pada masya-rakat dan sebagai kendali masyarakat atau protes sosial. Berdasarkan bahan-bahan yang telah dikumpulkan sejak tahun 1971, yang arsipnya kini disimpan di Jurusan Antropologi FIS1P-UI, lelucon dan anekdot yang beredar di kalangan mahasiswa di Jakarta paling sedikit dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori besar, yakni erotik dan nonerotik. Penggolongan ini dapat dirinci lagi ke dalam beberapa subkategori sebagai berikut: (1) Lelucon dan anekdot mengenai agama dan pejabat agama; (2) mengenai pe¬jabat pemerintah atau negarawan; (3) mengenai suku bangsa dan bangsa; (4) mengenai orang pintar; (5) mengenai orang bodoh; (6) mengenai angkatan bersenjata; (7) mengenai profesor; (8) mengenai pasangan suami-isteri; (9) mengenai dokter dan pasien; (10) mengenai   dan sejenisnya; (11) mengenai orang tua; (12) mengenai anak kecil; (13) mengenai pemilihan umum; (14) mengenai najis; (15) mengenai dialek; dan (16) mengenai binatang.

Sebagai contoh, misalnya sebagian warga desa Sukamaju tidak begitu simpatik terhadap kepala desa yang baru karena dianggap lebih bodoh daripada kepala desa yang lama. Namun mereka tidak dapat dan tidak berani mengungkapkannya secara langsung dan terbuka. Tidak lama setelah itu muncullah kisah fiktif di bawah ini: Ketika A masih menjabat sebagai kepala desa Sukamaju, dia sering mengadakan inspeksi banjir pada musim penghujan. Inspeksinya tidak tanggung-tanggung. Biar pun banjirnya sampai ke batas leher ia masih saja melakukan inspeksi. Tetapi sekarang, lurah B lain lagi ceritanya. Dia juga sering melakukan inspeksi banjir, tetapi air baru sampai sebatas lutut dia sudah buru-buru pulang. “Mengapa si B takut pada air sebatas dengkul, sementara mantan lurah A tidak?” Jawabnya: “Karena otak lurah A terletak di kepalanya, sedangkan otak lurah B berada di dengkulnya.”