1. Kehendak bebas menjadi lebih jelas apabila kehendak tebas disimak dalam hubungan dengan kegiatan-kegiatan etis. Tanpa kehendak bebas, dan karenanya tanpa kemungkinan untuk menghendaki ini atau itu, jelas manusia tidak lagi dianggap bertanggung jawab atas tindakan-tindakan yang dikehendakinya. Kalau kehendak bebas dilalaikan, martabat moral pribadi semestinya juga ditinggalkan. Ini akan berarti sama dengan mengatakan bahwa eksistensi manusia tidak mempunyai arti sedikit pun.

2. Kesadaran akan kebebasan sendiri sebelum, selama dan sesudah pilihan-pilihan tertentu merupakan fakta universal, tidak dapat disangkal sedemikian rupa sehingga kesadaran itu tidak dapat dijelaskan dalam setiap kasus sebagai akibat dari penipuan-diri semata-mata atau ketidaktahuan akan kekuatan-kekuatan yang tidak diketahui Kesadaran akan kebebasan sendiri hanya dapat dijelaskan oleh realitas kehendak bebas. Kemungkinan memprediksi dengan derajat akurasi tinggi pilihan-pilihan di masa mendatang dari individu-individu yang ditempatkan dalam keadaan tertentu, yang memberikan informasi penting mengenai karakter individu-individu, kesukaan dan ketidaksukaan mereka, dapat dijelaskan dengan fakta bahwa manusia biasanya memilih apa yang sesuai dengan kebiasaan-kebiasaannya, preferensi dan keadaannya. Ini sangat benar, apabila situasi tertentu tidak memberikan alasan penting mengapa mereka seyogyanya memilih sesuatu dari yang biasa. Karena, prediksi semacam ini bukan alasan untuk menentang fakta kehendak bebas.

3. Demikian juga, orang tidak dapat mengatakan bahwa prinsip- prinsip moral dasariah mendapatkan artinya bagi manusia sekalipun ia tidak menikmati kehendak bebas. Karena, misalnya, manusia layak membentuk wataknya lebih baik yang kini menyebabkan dia menjadi jahat. Karena, kalau manusia ini tidak bebas untuk menilai, dia tidak mempunyai kemungkinan untuk membentuk wataknya secara berlainan dari apa adanya sekarang dan karena itu dia tidak sungguh-sungguh bertanggung jawab atas tindakan-tindakan jahat yang kini dia lakukan.