ADAT PERKAWINAN DAERAH BUGIS, Suku bangsa Bugis di Sulawesi Selatan juga mempunyai adat perkawinan yang khas. Pada suku ini, secara garis besar perkawinan dapat terjadi dengan dua cara, yaitu dengan meminang si gadis, dengan membawa lari gadis itu. Kawin lari disebut kawin silariang.

Perkenalan antara si gadis dan si pemuda dapat dilakukan dengan berbagai cara. Namun pada ad Bugis yang khas adalah perkenalan di tapian, yaitu di tepi sungai atau tepi danau, tempat gadis-gadis biasanya mandi dan mencuci pakaiannya. Pemuda yang ingin berkenalan dengan seorang gadis biasan mengikuti gadis itu secara diam-diam manakala gadis pergi ke tapian. Pemuda itu bersembunyi semak dan mengintip gadis itu, kemudian merayu untuk mencuri pakaian dalam si gadis. Si gadis akan kebingungan karena kehilangan pakaian yang paling dirahasiakannya; tetapi pada kesempatan lain pemuda menemuinya untuk mengembalikan pakai itu. Saat itulah terjadi perkenalan yang dibenarkan adat. Hal itu tidak merupakan perbuatan terlarang selama si pemuda menutup rahasia, tidak menceritakan soal pakaian dalam curian itu kepada orang dan perbuatan itu tidak diketahui orang lain.

Cara perkenalan seperti ini penuh risiko, nyawalah taruhannya. Kalau perbuatan mengintip dan mencuri pakaian dalam itu diketahui orang lain nyawa si pemuda terancam. Ia sudah melanggar dan badik biasanya digunakan untuk menyelesai pelanggaran adat itu.

Setelah perkenalan dan si pemuda merasa cocok maka ia melaporkan perkenalannya itu kepada orng tuanya. Orang tua kemudian meneliti keluaga gadis yang diminati oleh anak lelakinya. Kufu yang dinilai meliputi ketaatan beragama keluarga si gadis, derajat keturunannya, kekayaannya dan kecantikannya. Jika hasil penelitian itu dinilai baik, keluaga

Kalau keluarga wanita menerima baik marhusip itu, tahap berikutnya adalah ngernbah manuk, yaitu perundingan antara dua keluarga guna menentukan mas kawin atau tukur atau tuhor. Mas kawin ini dapat berupa perhiasan, dapat pula berwujud babi atau kerbau. Ditentukan pula berapa jumlah harta yang akan diterima oleh saudara laki-laki ibu si gadis. Ini disebut tulang, upa atau bere-bere. Juga ditentukan jumlah harta yang akan diterima oleh saudara nenek si gadis dari pihak ibu. Mereka disebut perkempun.

Masih banyak lagi kewajiban pemberian harta dari pihak keluarga calon pengantin pria kepada keluarga pihak si gadis. Semuanya dirundingan satu persatu, secara terinci dan jelas. Pembicaraan yang terakhir menyangkut kapan perkawinan akan dilaksanakan.

Upacara perkawinan umumnya diadakan meriah dan dihadiri oleh segenap keluarga. Kerbau dan beberapa ekor babi dipotong untuk keperluan pesta itu. Berbagai nyanyian serta tarian juga diadakan penelitian itu dinilai baik, keluai si pemuda mengirimkan seorang utusan untuk m. jajagi apakah gadis itu masih bebas atau sudah, pertunangkan dengan pemuda lainnya.

Utusan itu memegang peranan penting dalam lanjutan proses menuju perkawinan. Karena itu harus seorang yang terpercaya, disegani, pandai bicara dan ramah, luas pengetahuannya terutai mengenai adat istiadat. Ia pun harus seorang pandai menangkap isyarat untuk membaca geiat apakah gadis yang dimaksudkan itu sudah bertunaan atau belum. Sebab, ketika utusan itu datang  tamu dan mengobrol dengan orang tua si gadis, orang tua si gadis tidak akan mengatakan dengan is status si gadis. Bahasa yang dipakai biasanya bah tersamar.

Tetapi kalau ternyata si gadis belum bertunangan, utusan itu akan bertamu lebih lama. Ia akan banyak bercerita tentang pemuda calonnya, dengan segala pujian yang dapat diberikannya. Sambil bercerita, si utusan harus juga menilai apakah tuan rumah ber¬kenan pada pemuda itu atau tidak.

Selanjutnya proses menuju perkawinan harus melalui tahap peminangan yang menurut adat disebut ma’duta. Setelah itu ditentukan soal mas kawinnya, yang disebut mappettu ada. Mas kawinnya sendiri oleh orang Bugis disebut sunrang atau sompa. Pada waktu ma’duta juga ditentukan berapa besarnya uang belanja kelak, kapan hari perkawinannya serta apa saja hadiah perkawinannya. Pembicaraan kali ini umumnya lebih terbuka daripada ketika utusan pertama kali datang. Sesudah tahap itu dilampaui, barulah orang sampai pada persiapan upacara perkawinan.

Beberapa hari sebelum hari perkawinan, di rumah calon mempelai wanita didirikan bangunan tambahan yang disebut sarapo atau baruga. Bangunan tambahan itu dibuat berdempetan dengan rumah utama, menempel di depan dan/atau di sampingnya. Masyarakat Bugis membangunnya secara gotong royong bersama seluruh kerabat serta para tetangga.

Sementara kaum laki-laki dan para pemuda sibuk membangun sarapo atau baruga itu, kaum wanita sertu gadis-gadis sibuk pula memasak di dapur. Pada saat itu, biasanya calon mempelai puteri menjalani mandi uap. Sepasu air yang dicampur dengan berbagai rempah serta ramuan dididihkan di bawah rumah, tepat di bawah kamar si gadis. Lantai kamar itu diberi lubang, lalu di lubang itu dipasangi cerobong yang menyalurkan uap air yang mengandung rempah itu. Si gadis calon mempelai duduk di kursi di atas lubang cerobong, sehingga seluruh tubuhnya dikepuli uap wangi itu. Mandi uap dan asap itu di sana disebut mapessau.

Pada saat menjelang pernikahan, si gadis dimandikan secara adat dan acara ini disebut mappalissi. Dengan pakaian khusus untuk mandi yang terdiri atas sarung dan kebaya, gadis itu dimandikan oleh orang- orang tua dengan air bunga. Biasanya gadis-gadis lain yang belum kawin, terutama teman-teman sepermainan si calon pengantin, berkerumun mengelilingnya. Orang tua yang memandikan sengaja memercikkan air mandi itu pada gadis-gadis yang berkerumun itu. Mereka percaya bahwa, air tadi bertuah untuk mendekatkan jodoh gadis yang belum kawin. Acara pernikahan di Bugis selanjutnya tidak jauh berbeda dengan daerah lain yang menganut agama Islam. Hanya berbagai variasi membuatnya agak berbeda.

Kawin lari di kalangan masyarakat Bugis dapat terjadi karena beberapa sebab. Namun ada tiga sebab yang umum terjadi. Pertama adalah, si gadis tidak mau dipaksa kawin dengan pemuda pilihan orang tuanya, Kedua, si pemuda merasa tingkat derajat dan martabat keluarganya jauh di bawah martabat keluarga si gadis, sehingga si pemuda tidak untuk diterima seandainya melamar secara baik-baik. Ketiga, dalam perundingan mengenai uang belanja serta mas kawin, si pemuda merasa tidak mampu memenuhi permintaan keluarga pihak wanita.

Jika salah satu dari tiga hal tersebut terjadi, secara rahasia kedua sejoli merundingkan cara, saat, dan tujuan pelarian. Perundingan ini harus rahasia betul, sehingga tidak ada orang lain yang tahu. Biasanya, si gadis pada malam hari lari dari rumah menuju ke suatu tempat yang telah disepakati. Di situ si pemuda telah menunggu dan mereka bersama-sama lari ke daerah lain.

Di daerah lain, keduanya secepatnya menghubungi kantor syara’ dan minta pada penghulu untuk menikahkan mereka. Dengan demikian mereka tidak lagi dianggap melakukan perbuatan tercela. Namun jika dalam pelarian itu mereka tertangkap oleh keluarga pihak wanita, keadaan akan gawat. Biasanya, yang menyelesaikannya adalah perang tanding satu lawan satu dengan badik di tangan. Badik adalah senjata genggam khas Bugis dan Makasar.

Jenis kawin lari yang lain adalah nilariang. Cara ini terjadi yakni bilamana si gadis tidak berkehendak untuk lari, namun si pemuda memaksanya, jadi agak mirip penculikan. Jenis kawin lari yang lain lagi, namanya erangka/e, kawin lari yang terjadi bila si gadislah yang membujuk si pemuda agar mau melarikannya.